Rumah tua di pinggiran sungai Sinamoto, air mengalir tenang di iringi kicauan burung serta suara angin sayup-sayup. Sunami adalah namaku aku dibesarkan dikota ini Hasena. Umurku 74 tahun, dulu aku sarjana biologi telah beberapa tahun aku pensiun. Aku tidak mempunyai anak kami dulu mempunyai keluarga ayahku Sanato dan ibuku Minami, ayahku pensiunan tentara dan ibu ku sebagai ibu rumah tangga. Kami di lahirkan empat bersaudara, kakak pertama Sanue, Sugata aku dan adikku Tugo. Kedua kakakku adalah petani, sedang adikku adalah nelayan didesa Hasunagawa. Kedua kakakku berada didesa yang sama dengan adikku. Kami termasuk keluarga bahagia dan rukun, Ayahku dan ibu ku termasuk pasangan yang romantis. Hidup kami lalui dengan bahagia penuh canda dan tawa. Walau pun kadang-kadang kami pun sering bertengkar. Diantara semua saudara kami bersaudara semakin dekat satu dengan yang lain. Aku sendirian di kota ini menanti ajal menjemputku. Merenungi kenangan ku didesa yang tragis atas peristiwa yang menimpa dengan keluarga kami. Pilu hatiku untuk mengenang kejadian itu malang nasib keluarga ku. Duduk di bangku panjang melamun serta memandang ke arah sungai, tetesan air mata menandakan betapa dalam luka itu. Banyak orang-orang berjalan dibelakangku kadang-kadang hanya beberapa orang saja yang melihat ke arah sungai dan kadang melihatku kemudian datanglah seorang anak kecil. Nenek sendirian anak kecil itu berkata, '' nenek menoleh kearah kanan dan menyapa anak itu", iya nak " nenek sedang sendirian "jawab si nenek. Anak itu kemudian duduk agak jauh dari si nenek. Sambil tersenyum-senyum anak itu berkata lagi " nek, eh nenek nama nenek siapa kalau aku" Iwan. "Nenek itu tercengang kok nama nak berbeda dengan penduduk di sini, kau pasti bukan orang disini" tanya nenek lagi. Anak itu menjawab iya aku bukan orang disini aku orang Indonesia" jawab anak itu. Nenek berkata lagi " ooooohhhh Indonesia, tadi nama nak siapa ....... ya ya kalo nenek tak salah ingat wan ..... iy .... Iwan. " Betulllll nek aku Iwan tuturnya. Nama nenek Sunami, kata nenek. Iwan tersenyum kecil kemudian Iwan " nama nenek lucu kayak bencana alam Tsunami apakah nenek itu saudaranya Tsunami. Bukan-bukan Sunami bukan itu Iwan bisa aja. Kata mereka tertawa dan saling pandang. Iwan berkata " Sunami, kenapa nenek ada disini sendirian apa tak ada yang menemani, anak nenek mana ? Nek Sunami berkata ah iya nenek hanya sendirian disini anak nenek tak ada. Nenek sebatang kara katanya. Nenek hanya merenungi saja kejadian masa lalu nenek yang kelam jawab nenek. Hari sudah sore nenek harus pulang apa kau tidak dicari oleh ayah ibumu, kata nenek. Padahal aku mau masih tanya2 nenek lagi, Kata Iwan. Besok kita bertemu disini lagi pagi-pagi dan kita menceritakan diri kita masing-masing kata nenek, oke deh kalau begitu, Jawab Iwan, tapi nenek janji ya, kata Iwan. Iya-iya nenek janji. Selamat jalan nek sahut Iwan. Maka mereka berdua berjalan saling membelakangi menuju rumah masing2. Kemudian ke esokkan harinya mereka bertemu lagi sesuai kesepakatan mereka bertemu pagi hari, kira-kira jam sembilan pagi. Pada saat di tunggu-tunggu anak kecil itu ternyata datang lebih dulu daripada nenek. Jangan-jangan nenek gak datang lagi atau sakit atau nenek lupa sama janji kita, kata anak itu dalam hati. Ah gak mungkin nenek itu gak datang ia sudah janji sama aku, dengan penuh cemas anak itu mondar-mandir di sekitar tempat duduk itu, sambil berguman, Hmmmmmm........ tak lama kemudian kira-kira jam sembilan lewat sepuluh menit nenek itu datang. Dan mereka duduk lagi di tempat yang sama tapi agak lebih dekat dari yang kemarin. Baiklah nek aku akan menceritakan diriku dulu. Iwan aku masih sekolah nek, aku sekolah di sekolah iciban, level 8, kira-kira kalau di Indonesia aku kelas 3 SMp nek. Aku tinggal di Hasena kota ini juga, bersama kakak perempuanku dia sudah menikah, kakakku Santi namanya dan suaminya Agus. Kakakku ibu rumah tangga dan suaminya kerja di Kedubes Indonesia yang ada di Jepang. Kakak perempuanku sudah punya anak 2 orang. Aku orangnya mandiri nek kemana-mana sendiri. Nah, Sekarang giliran nenek yang cerita " tanya Iwan. Baik-baiklah nenek cerita, jawab nenek. Nenek kini bercerita dan seperti bagian pertama halaman depan (singkat cerita). Ohhhh, begitu hidup nenek, sedih aku mendengarnya nek. Tak apa-apa nek kini sudah tenang ada yang menemani nenek bercerita. Kemudian nenek terdiam sesaat dan sambil menghela nafas. Iwan kemudian bertanya, " ada apa nek, kayaknya nenek masih memikirkan sesuatu, ayo dong nenek aku ingin tahu. Baiklah nenek akan bercerita tapi kau jangan cerita lagi sama orang lain ya, jawab nenek. Baiklah aku janji nek, sahut Iwan. Dengerin ya, Temaramnya hutan serta kesunyian itu tergambarkan lewat banyaknya daun kering dan berguguran. Daun-daun berguguran mengenai seorang laki-laki paruh baya dia adalah Kepala desa setempat Sanio, dia telah beberapa kali menjabat sebagai kepala desa. Umurnya sekitar 45 keatas gitu. Langit-langit cerah dan matahari agak tertutup awan. Kadang angin senyap kadang pula kuat menerpa Sanio. Terlihatnya bapak Sanio tergesa-gesa menuju desa. Dia terus berlari dan berhenti-henti sebentar dan terus lari lagi. Seluruh keringat membasahi tubuhnya, pucat wajahnya. Tak lama kemudian ia tiba didesa. Desa itu sepertinya sibuk sambil lalu-lalang banyak sekali kegiatan penduduk di sekitar itu. Walau desa itu terkesan kuno tapi dari segi teknologi desa itu tak ketinggalan seluruh infrastruktur tersedia lengkap. Mulai dari yang kecil sampai yang besar. Pemandangan alamnya pun sangat indah. Didesa itu banyak toko kelontong, warung, minimarket, tempat lelang ikan dan lain-lain. Kebersihan desa itu selalu terjaga karena masyarakatnya mempunyai tertib kebersihan yang baik. Tak lama kemudian dari kejauhhan datang bapak Sanio dengan tergesa-gesa, dia bertemu orang dan bertanya, " pak tanya Sanio. Bapak Sanato dimana apakah anda melihatnya. Ohhhh bapak Sanato ada di toko minimarket, Jawab orang yang ditanya ohhh makasih ya pak, jawab Sanio. Ya..... ya, sambil geleng-geleng kepala bapakyang ditanya. Bergegaslah pak Sanio menemui pak Sanato, walau dengan nafas setengah lagi. Pak, pak Sanato, ujar Sanio. iya.......iya, jawab Sanato. Coba tenang2 kalau sudah agak lega baru nanya kata pak Sanato. Tak lama kemudian, pak Sanato, saya melihat mayat di tengah hutan pak, kata pak Sanio. Dimana-mana di hutan mana sambil bingung juga pak Sanato. Di hutan pak aku tak begitu kenal pak, sebab mayat nya sudah mulai membusuk. Ayo kita laporkan pak pada pihak berwajib. Segeralah mereka melaporkan berita itu dan beberapa orang ikut dalam perjalanan itu, ada yang menaiki sepada motor dan ada juga ikut kendaraan sendiri. Tibalah polisi setempat ke tempat mayat itu tergeletak. Setelah pihak kepolisian mencari saksi dan barang bukti, serta menanyai beberapa orang. Pada ke esokkan harinya mayat itu dikuburkan. Tak lama orang-orang berjalan tak jauh dari mula-mula hanya beberapa orang saja yang membicarakan peristiwa itu, akhirnya seluruh kota mulai membicarakannya. Keadaan kembali tenang, agak melupakan kejadian tersebut. Selang beberapa hari kejadian serupa terulang lagi dengan bukti yang sama namun agak sedikit berbeda. Tapi polisi memperkirakan oknum yang melakukan ini adalah orang yang sama. Karena pelaku pembunuhan tak juga berhasil di tangkap, mulailah kegelisahan terjadi dan orang-orang saling curiga satu sama lain. Polisi terus mencari si pelaku tersebut. Keluarga Hasena jauh dari kota kecil itu. Mereka menghuni rumah tua kuno jepang. Rumah Hasena terletak dipinggir sungai dipinggir kota. Ada jalan didepan rumah Hasena kira-kira selebar mobil pick up. Mula-mula ........... to be countinued.
Jumat, 17 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar